Pendidikan yang Tertinggal dari Kehidupan

Pendidikan yang Tertinggal dari Kehidupan

Jakarta – Bayangkan seorang remaja bernama Arka. Ia bukan tipe siswa yang mencolok di sekolah, nilai-nilainya biasa saja, ia cenderung pendiam di kelas, dan tak pernah diundang dalam upacara penghargaan akhir tahun. Tapi saat pulang ke rumah, dunianya berubah total.

Baca Juga: Artifical Intelligence dan Pendidikan Berkesadaran

Di layar laptopnya, Arka menjadi moderator komunitas sejarah digital beranggotakan ribuan orang dari slot depo 10k berbagai negara, ia aktif menyunting entri wikipedia, membedah

dokumen arsip dari perpustakaan daring, dan terlibat dalam diskusi lintas budaya di

Reddit dan Discord, ia tahu cara membaca peta politik pertengahan, dan bisa menjelaskan perbedaan meteologis antara sejarawan Arnales dan revision pasca kokonal.

Ironisnya guru sejarahnya dis sekolah bahkan belum pernah mendengar Reddit, dan masih memberikan tugas membuat rangkuman bab demi bab dan buku teks usang yang ditulis dua dekade lalu.

Pendidikan yang Tertinggal, Dunia yang Berlari

Sekolah masih berdiri kokoh sebagai simbol institusi pendidikan, namun mahjong wins 3 black scatter fondasi yang menopangnya mulai keropos karena tak lagi sesuai dengan zaman. Banyak sekolah masih beroperasi seperti pabrik di era industri, memiliki bel, jadwal tetap, raung-ruang tertutup, serta kurikulum yang kaku dan seragam.

Murid-murid duduk dan menerima informasi dari otoritas tunggal yang disebut guru, lalu diuji

dengan cara yang sama dan diukur dengan ala yang sama, meski latar belakang dan potensinya sangat berbeda.

Informasi tidak datang dari satu sumber, tapi muncul serentak dari puluhan kanal. Otoritas tidak lagi datang dari ssatu suara, tetapi dibentuk dari inetaraksi sosial yang dinamis dan forum, komunitas, dan platfrom digital.

Digital Bukan Perpanjangan Dunia Nyata, Ia Dunia Itu Sendiri

Kesalahan terbesar yang dilakukan sistem pendidikan saat ini adalah terus menerus memposisikan

dunia digital sebagai pelengkap, bukan sebagai habitat utama. Banyak guru, birokrat pendidikan, bahkan orang tua masih berfikir bahwa teknologi adalah alat bantu pembelajaran.

Dalam logika ini, digitalisasi berarti mengganti buku dengan PDF, mengganti papan tulis dengan

layar proyektor, atau mengganti ruang kelas dengan Zoom. Padahal, transformasi digital bukan soal medium, tetapi soal cara berfikir, cara memahami wakt, ruang, dan relasi antar manusia.

Kita hidup di era ketika anak bisa belajar bahasa asing dari discord , memahami politik global dan

TikTok, dan menghasilkan pendapatan dari kanal Youtube pribadi. Pendidikan tidak lagi linear, tetapi bersifat epsidosik dan kontekstual. Ia tidak lagi individualistis, tetapi kolaboratif dan partipisif.

Mendidik dalam Dunia yang Tak Lagi Nyata

Namun dunia digitak bukan utopia. Ia membawa tantangan serius, disinformasi, adkisi, fragmentasi slot88 resmi perhatian, serta tekanan sosial yang tak kasatmata namun sangat nyata dampaknya.

Justru karena itu, pendidikan menjadi semakin penting, bukan untuk menarik anak-anak keluar

dari dunia digital, tetapi untuk membekali mereka agar bisa hidup mereka agar bisa hidup secara utuh di dalamnya.

Sekolah, Antara Ketakutan dan Harapan

Yang menjadi persoalan utama hari bukanlah apakah anak-anak siap mengahadapi masa depan. Mereka dengan segala keunikan dan kemampuan adaptifnya justru sedang berlari ke depan. Pertanyaan sesungguhnya adalah apakah sekolah siap mengejar mereka?

Jika pendidikan terus mempertahankan model yang menutup diri dari perubahan, maka bukan hanya institusi sekolah yang akan kehilangan makna. Kita semua akan kehilangan generasi yang paling berpotensi membbentuk masa depan yang lebih baik.

Exit mobile version