Jakarta – Kementrian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) akan menyelenggarakan konferensi international soal Literasi Keagamaan Lintas Budaya atau Cross-Cultural Religious Literacy (ICCL) 2025 di Jakarta pada 11-12 November 2025.
Baca Juga: Pendidikan (Tanpa) Kompetisi
Sekertaris Jenderal gates of gatot kaca 1000 Kemendikdasmen, Suharti menjelaskan konferensi in merupakan bentuk kolaborasi antara Kemendikdasmen dan institute Leimena, yang selama ini aktif dalam pelatihan literasi keagamaan lintas budaya di berbagai negara.
“Kita ingin mereaktualisasi dan menghidupkan kemballi nilai-nilai arena lokal bagi generasi kita saat ini dan tentu saja aktivitas pendidikan dan pengajaran untuk meningkatkan toleransi antar umat beragama.
Jawab Tantangan Pendidikan di Tengah Keberagaman
Suharti menjelaskan, Asia Tenggara merupakan kawasan yang sangat beragam baik slot starlight princess dari sisi etnis, bahasa, maupun agama, Ia mencatat, ada lebih dari 1.900 kelompok suku di Asia Tenggara dengan dominasi suku terdapat di Indonesia yakni sebanyak 1.340 suku.
Menurutnya, keberagaman ini menjadi kekayaan sekaligus juga tantangan dalam penyelenggaraan pendidikan. Terlebih bagi Indonesia yang juga memiliki penduduk terbanyak di ASEAN.
“Separohnya juga ada di Indonesia dan kalau kita lihat dari kelompok sukunya juga sampai 1.900 keragaman yang luar biasa. Tentu dengan beragamnya manusia-manusia yang hidup di Asia Tenggara itu punya tantangan tersendiri.
Ia menambahkan, pengaruh globalisasi yang kuat jug menjadi tantangan tersendiri karena dapat mengikis nilai-nilai budaya dan agama yang menjadi dasar karakter bangsa.
“Kemudian tantangan berikutnya adalah moderasi pengaruh global yang begitu besar melemahkan nilai-nilai budaya kadang-kadang dan tentu saja melemahkan nilai-nilai agama.
Fokus pada Moderasi, Toleransi, dan Kolaborasi
Konferensi ini akan membahas bagaimana literasi keagamaan lintas budaya (cross-cultural religious literacy) dapat diterapkan di ruang bonanza slot pendidikan untuk membangun pemahaman lintas agama dan solidaritas sosial.
“KIta harapkan dari konferensi yang akan kita adakan fondasi untuk membentuk karakter yang menjunjung tinggi moralisme, toleransi dan pengorbanan terhadap keberagaman. Kemudian yang kedua, yang penting juga untuk jaringan kolaborasi international antara pemerintah.
“Dengan mengundang para perwakilan dari negara-negara ASEAN jadi untuk mendiskusikan lebih lanjut bagi sejauh mana kegiatan semacam ini atau ide program seperti ini dapat bermanfaat, relevan bagi kawasan ASEAN untuk membangun masyarakat yang inklusif.
Selain membangun jejaring global, Matius menegaskan bahwa konferensi ini menegaskan bahwa konferensi ini juga diharapkan dapat membantu guru dalam memahami budaya agama lain. Harapannya, para guru lintas agama bisa melakukan kolaborasi dalam hal pendidikan.
“Program ini menjadi sepertu ruang aman gitu untuk para guru bertanya tentang agama lain dan itu meinmbulkan rasa empati dan juga pada akhirnya bisa membangun kolaborasi antara para guru,” kata Matius.
Dengan menghadirkan para ahli, praktisi pendidika, dan tokoh lintas agama dan berbagai negara, Kemendikdasmen berharap konferensi ini menjadi momentum penting dalam memperkuat pendidikan karakter yang berakar pada nilai-nilai kemanusiaan, kebinekaan, dan perdamaian.
