Sekolah Rakyat dan Kompleksitas Pengelolaan Pendidikan

Sekolah Rakyat dan Kompleksitas

Jakarta – Dalam rangka mempercepet pengentasan kemiskinan, Kementrian, Sosial akan membuka sekolah rakyat untuk semua jenjang dari sekolah menengah atas. Skemanya, seluruh biaya pendidikan, seragam, makan dan akomidasi lainnya ditanggung seratus persen oleh negara.

Baca Juga: Lenyap 70% Dana MBG dari Anggaran Pendidikan, JPPI Siapkan Gugatan ke MK

Sekitar 1000 peserta didik yang berasal dari kalangan tidak mampu akan ditampung di asrama.Sekolah rakyat yang dianggarkan casino online Rp 100 milliar per satuan pendidikan akan dimulai juli 2025 ini.

Mencermat hadirnya pemerintah pusat dalam sekolah rakyat tampaknya Pemerintah Prabowo mulai melakukan eksperimen dengan mengkompromikan ideologi sosialisme dengan kapitalisme dalam dunia pendidikan.

Peran Negara versus Janji Politik

Dalam konstitusi, n negara bertanggung jawab sekaligus menjamin hak warga negara dalam pendidikan. Tidak hanya itu, alokasi 20% pendidikan secara eksploif dinyatakan dalam konstitusi. Sementara itu, negara membuka partisipasi masyarakat dalam pembiayaan.

Konsep Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) diperkenalkan dalam Undang-Undang Nomor 20 tahun 2023 tentang Sistem Pendidikan Nasional agar masyarakat dapat aktif terlibat dalam satuan pendidikan sehingga semua sekolah di suruh daerah sekolah berutu karena peran serta aktif.

Dan Perspektif regulasi, corak ideologi kapitalisme dapat terlihat dari pembagian kewajiban. Negara membuka partisipasi masyarakat, termasuk dalam pembiayaan, dan juga penyelenggaraan sekolah di bawah yayasan sebagai badan penyelenggaraan pendidikan.

Melihat proporsi ini, sekelas dapat terlihat bahwa negara memiliki keterbatasan dalam menjalankan amanah konstitusi . Saat sekolah-sekolah dikelola oleh masyarakat, Kemudian pemerintah merupajan instentif “ala kadarnya” dalam Bentuk Bantuan Operasional Satuan Pendidikan (BOSP).

Sekolah Rakyat dan Kompleksitasnya

Otonomi daerah meniscayakan pengelolaan satuan pendidikan dasar dan menengah kepada kabupaten/kota dan provinsi, sementara pendidikan tinggi kepada pemerintah pusat. Selain itu, pendidikan tidak hanya di urus oleh kementrian pendidikan tinggi.

Dengan adanya sekolah rakyat beratati menambah lagi satu kementrian yang turut mengelola pendidikan. Melihat beberapa titik yang akan dijadikan sekolah rakyat, Kementrian Sosial menggunakan asetnya umtuk dijadikan satuan pendidikan.

Tenaga pengajar dan kepada sekolah akan direkrut daftar maxbet dari guru penggerak, dan guru yang telah lulus PPG. Tidak sulit mencari tenaga pendidik dan kependidikan di tengah melimpahnya lulusan fresh graduate LPTK.

Namun, keberadaan sekolah rakyat ini akan menambah kompleksitas pengelolaan pendidikan, Pertama, kehadiran negara dengan membiayai siswa tidak mampu secara penuh sekolah mengadopsi ideologui sosialisme.

Lenyap 70% Dana MBG dari Anggaran Pendidikan, JPPI Siapkan Gugatan ke MK

Lenyap 70% Dana MBG

Jakarta – Koordinator Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI) Ubad Matraji menyampaikan ada sederet permasalahan yang harus dituntaskan terkait program Makan Bergizi Gratis (MBG). Menurut Ubaid, masalah dana menjadi sorotan utama dalam pelaksanaannya.

Baca Juga: Kementrian Pendidikan Korea Selatan Umukan 4.000 Sekolah Ditutup, Kenapa?

Dari anggaran pendidikan tahun 2025, program MBG memakan dana Rp 223 triliun dari total anggaran pendidikan Rp 769,1 triliun.

Adapun total anggaran MBG mencapai Rp 335 triliun. Sebanyak Rp 223 triliun dan juga anggaran MBG diambil dari sektor pendidikan, setara 66% alias nyaris 70%.

Selebihnya, anggaran MBG Rp 24, 7 triliun dari sektor kesehatan, dan juga Rp 19,7 triliun dari sektor ekonomi, Artinya, dana MBG paling banyak mengambil anggaran pendidikan.

“Gimana ceritanya anggaran makan-makan sumber danannya hampir 70 peresen ngerampok dari anggaran pendidikan,” kata Ubaid dalam diskusi Catatan akhir tahun Rapor Pendidikan 2025 yang digelar JPPI di Bakoed Kopi Cikmi, Jalan Menteng, Jakarta Pusat, Selasa (30/12/2025)

Siapkan Gugatan ke MK

Ubaid dan juga tim JPPI telah mengkaji perihal MBG dan menemukan mega wheel pragmatic adanya pelanggaran terhadap pasal 31 Undang-Undang Dasar 1945. Di mana dalam pesal tersebut diamankam anggaran pendidikan sebesar 20%.

Namun, karena terambil oleh program MBG, anggaran pendidikan memiliki sisa 14,21% Oleh karena itu. JPPI bersama Indonesia Coruption Watch (ICW) dan juga kondisi masyarakat sipil berencana akan mengajukan Judical Review ke Mahkamah Konstitusi (MK).

“Ini jelas melanggar Pasal 31 UUD 45 dan juga Januari akan kami daftarkan Judical Review ke Mahkamah Kontitusi,”katanya.

Penyelewangan MBG di Sekolah

Ubaid juga menemukan adanya sekolah yang memungut tarif untuk setiap MBG yang masuk. Dari sana, oknum mendapatkan pemasukan baru lewat MBG.

“Begitu MBG ini masuk-masuk ke sekolah negeri dan juga sekolah swast, ada banyak saya mendapatkan laporan dari SPPG juga mendapat laporan dari sekolah. Dari SPPG itu banyak sekali SPPG-SPPG yang dipalakin oleh sekolah.

“Kalau MBG mau masuk ke sekolah saya, satu anak seribu. SPPG harus bayar ke sekolah saya satu anak seribu per hari. Kalau sekolah saya itu muridnya bisa sampai 5000,5000 kali seribu berapa? Rp 5 juta, Rp 5 juta sehari.

Tak hanya itu, Ubaid juga tak memungkin sekelumut permasalahan lain situs slot terkait MBG yakni keracunan makanan, limbah sisa MBG, dan juga takanan menu MBG yang beberapanya masih belum sesuai dengan kebutuhan gizi anak.

Pendidikan Aman Jika MBG 2 Bulan Dipangkas

Berdasarkan perhitungan JPPI, Ubaid melihat untuk membuat angka putus sekolah tuntas, Indonesia memerlukan Rp 75 triliun lagi. Dana Rp 75 triliun sudah cukup membuat sekolah negeri dan juga swasta gratis.

Kementrian Pendidikan Korea Selatan Umukan 4.000 Sekolah Ditutup, Kenapa?

Kementrian Pendidikan Korea Selatan

Jakarta – Kementrian Pendidikan Korea Selatan mengumumkan penututpan lebih dari 4.000 sekolah di negara tersebut. Penutupan ini termasuk jenjang sekolah dasar menengah dan tinggi.

Menurut angka terbaru dari kementrian, 4.008s ekolah di bawah 17 kantor pendidikan regional telah ditutup hingga maret 2025. Selama periode tersebut, jumlah siswa yang terdaptar menurun dari 9,9 juta menjadi 5,07 juta orang.

Baca Juga: Soal TKA 2025 Bocor di Medsos, PGRI Singgung Proses Pengawasan-Pendidikan Karakter

Mayoritas sekolah ditutup merupakan sekolah dasar. Sebanyak 3.674 dasar ditutup secara permanen.

Angka tersebut disusul dengan 254 sekolah menengah dan 70 sekolah tinggi. Dalam lima tahun terakhir. 158 sekolah diproyeksikan akan ditutup dalam lima tahun ke depan.

Apa Penyebab 4.000 Sekolah Korsel Ditutup?

Anggota parlemen Jin Sun-mee dari Pantai Demokrat Korea slot bet menyatakan tingkat kelahiran Korea Selatan merupakan yang terendah di dunia Adapun tingkat kesuburan total berada di bawah 0,8.

Mengacu pada laju penutupan sekolah, pihaknya juga memprediksi penurunan jumlah siswa akan semakin cepat di wilayah provinsi daripada di wilayah ibu kota, Jumlah penutupa terbesar terjadi di Provinsi Jeola Utara dengan 16 sekolah.

Pemerintah Memprediksi Jumlah Siswa Akan Menurun Sebanyak 1 Juta Jiwa

Lembaga Pengembangan Pendidikan Korea yang dikelola negara memperkirakan jika jumlah siswa sekolah dasar, menngah dan atas diproyeksikan akan menurun menjadi sekitar 4,25 juta pada tahun 2029. Penurunan hampir 1 juta siswa hanya dalam enam tahun.

Data kementrian juga mengungkapkan kesenjangan dalam slot thailand pengelolaan sekolah pada lokasi yang ditutup. Dari 4.008 sekolah yang telah ditutup, 376 masih belum digunakan. Di antara sekolah-sekolah tersebut, 266 telah ditinggalkan selama lebih dari 82 telah ditinggalkan selama lebih dari 30 tahun.

“Sejumlah besar sekolah telah ditutup, dan ini akan terus berlanjut seiring dengan penurunan jumlah siswa, kata Jin dalam Korea Times dikutip Senin (29/12/2025).

“Kita tidak bolah hanya berhenti pada penutupan sekolah, tetapi harus mengembangkan peta jalan

jangka panjang untuk memanfaatkan sekolah-sekolah tersebut sebagai aset bagi masyarakat setempat,”sambungnya.

Koordinator Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI) Ubad Matraji menyampaikan ada setempat

sederet permasalahan yang harus dituntaskan terkait program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang harus idtuntaskan masalah dana menjadi sorotan utama dalam pelaksanaannya.

Kemendikdasmen Mau Gelar Konferensi Dunia, Bahas Pendidikan Inklusif Lintas Agama

Kemendikdasmen Mau Gelar Konferensi Dunia

Jakarta – Kementrian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) akan menyelenggarakan konferensi international soal Literasi Keagamaan Lintas Budaya atau Cross-Cultural Religious Literacy (ICCL) 2025 di Jakarta pada 11-12 November 2025.

Baca Juga: Pendidikan (Tanpa) Kompetisi

Sekertaris Jenderal gates of gatot kaca 1000 Kemendikdasmen, Suharti menjelaskan konferensi in merupakan bentuk kolaborasi antara Kemendikdasmen dan institute Leimena, yang selama ini aktif dalam pelatihan literasi keagamaan lintas budaya di berbagai negara.

“Kita ingin mereaktualisasi dan menghidupkan kemballi nilai-nilai arena lokal bagi generasi kita saat ini dan tentu saja aktivitas pendidikan dan pengajaran untuk meningkatkan toleransi antar umat beragama.

Jawab Tantangan Pendidikan di Tengah Keberagaman

Suharti menjelaskan, Asia Tenggara merupakan kawasan yang sangat beragam baik slot starlight princess dari sisi etnis, bahasa, maupun agama, Ia mencatat, ada lebih dari 1.900 kelompok suku di Asia Tenggara dengan dominasi suku terdapat di Indonesia yakni sebanyak 1.340 suku.

Menurutnya, keberagaman ini menjadi kekayaan sekaligus juga tantangan dalam penyelenggaraan pendidikan. Terlebih bagi Indonesia yang juga memiliki penduduk terbanyak di ASEAN.

“Separohnya juga ada di Indonesia dan kalau kita lihat dari kelompok sukunya juga sampai 1.900 keragaman yang luar biasa. Tentu dengan beragamnya manusia-manusia yang hidup di Asia Tenggara itu punya tantangan tersendiri.

Ia menambahkan, pengaruh globalisasi yang kuat jug menjadi tantangan tersendiri karena dapat mengikis nilai-nilai budaya dan agama yang menjadi dasar karakter bangsa.

“Kemudian tantangan berikutnya adalah moderasi pengaruh global yang begitu besar melemahkan nilai-nilai budaya kadang-kadang dan tentu saja melemahkan nilai-nilai agama.

Fokus pada Moderasi, Toleransi, dan Kolaborasi

Konferensi ini akan membahas bagaimana literasi keagamaan lintas budaya (cross-cultural religious literacy) dapat diterapkan di ruang bonanza slot pendidikan untuk membangun pemahaman lintas agama dan solidaritas sosial.

“KIta harapkan dari konferensi yang akan kita adakan fondasi untuk membentuk karakter yang menjunjung tinggi moralisme, toleransi dan pengorbanan terhadap keberagaman. Kemudian yang kedua, yang penting juga untuk jaringan kolaborasi international antara pemerintah.

“Dengan mengundang para perwakilan dari negara-negara ASEAN jadi untuk mendiskusikan lebih lanjut bagi sejauh mana kegiatan semacam ini atau ide program seperti ini dapat bermanfaat, relevan bagi kawasan ASEAN untuk membangun masyarakat yang inklusif.

Selain membangun jejaring global, Matius menegaskan bahwa konferensi ini menegaskan bahwa konferensi ini juga diharapkan dapat membantu guru dalam memahami budaya agama lain. Harapannya, para guru lintas agama bisa melakukan kolaborasi dalam hal pendidikan.

“Program ini menjadi sepertu ruang aman gitu untuk para guru bertanya tentang agama lain dan itu meinmbulkan rasa empati dan juga pada akhirnya bisa membangun kolaborasi antara para guru,” kata Matius.

Dengan menghadirkan para ahli, praktisi pendidika, dan tokoh lintas agama dan berbagai negara, Kemendikdasmen berharap konferensi ini menjadi momentum penting dalam memperkuat pendidikan karakter yang berakar pada nilai-nilai kemanusiaan, kebinekaan, dan perdamaian.

Pendidikan (Tanpa) Kompetisi

Pendidikan (Tanpa) Kompetisi

Jakarta – Ibu saya, seorang guru Kelas 1 SD yang telah mengabdikan diri selama puluhan tahun, selalu meganggap pembagian rapor sebagai momen yang istimewa.

Bukan hanya sekedar membagikan lembaran nilai, tetapi juga kesempatan untuk berinteraksi dengan orang tua murid, membahas perkembangan anak, dan menjalin kerja sama untuk mendukung proses belajar anak.

Baca Juga: Perbaikan Sistem Pendidikan Nasional Jenjang Dasar-Universitas, DPR Sorot PR Ini

Selama judi bola bertahun-tahun memberikan ranking pada rapor adalah hal yang lumrah, sebuah tradisi yang seolah tak terpisahkan dari sistem pendidikan kita. Namun, seiring perubahan kurikulum dari sistem pendidikan kita.

Awalnya, ia mengira perubahan ini akan di sambut baik oleh para orang tua. Namun, realita berkata lain.

Pada hari pembagian rapor, ketika para orang tua murid berbondong-bondong datang ke sekolah, protes pun bermuculan, ‘Ibu ko tidak ada rankingnjya? Anak saya nilainya bagus.

Pendidikan Penting Bagi Anak-Anak

Ibu saya sabar menjelaskan tentang perubahan kurikulum dan alasan di balik penghapusan ranking.

Namun, para orangtua tampaknya tidak peduli. Mereka tetap menuntut adanya ranking, seolah-olah itulah satu-satunya mega wheel pragmatic indikator kesuksesan anak mereka.

Dihadapkan pada desakan yang tak henti-henti, ibu saya pun mengalah, Dengan berat hati, ia akhirnya memberikan peringkat di rapor siswa. Bukan karena ia setuju dengan sistem ranking.

Tetapi lebih karena ingin menyudahi protes dan melanjutkan proses pembagian rapor. Kejadian ini terus berulang pada tahun-tahun berikutnya. Ibu saya terjebak dalam dilema antara mematuhi dan memenuhi tuntutan orangtua murid.

Makna Pendidikan

Fenomena di atas hanyalah secuil potret obsesi masyarakat Indonesia terhadap kompetisi wild bandito slot di dunia pendidikan. Seolah-olah nilai, peringkat, dan gelar juara adalah segalanya, penentu tunggal keuksesan seseorang.

Lantas, benarkah kompetisi adalah obat mujarab bagi kemajuan pendidikan? Atau justru racun yang perlahan menggerogoti esensi belajar itu sendiri.

Sistem pendidikan di Indonesia, sejak era kolonial hingga Orde Baru, memang kental dengan nuansa kompetisi. Ujian Nasional, peringkat kelas, seleksi masuk perguruan tinggi, semuanya didesain untuk menyerang individu “terbaik”.

Mentalitas ini diperparah oleh budaya masyarakat yang memuja kesuksesan instan dan pengakuan sosial. Gelar juara, IPK Tinggi, dan sederet prestasi akademis menjadi simbol status, jaminan masa depan yang cerah.

Namun, dibalik gemerlap piala dan piagam penghargaan, tersimpan dampak negatif yang tak bisa diabaikan. Alfie kohn, seorang penulis dan kritikus pendidikan terkemuka, dalam bukunya No Contest: The Case Againt Competition.

Riset yang dilakukan oleh John Nichols, Profesor rolet online pendidikan di Universitas lllinois, juga menunjukan bahwa siswa yang termotivasi oleh kompetisi cenderung memilih tugas-tugas yang mudah dan menghindari tantangan.

Penting Bagi Kehidupan di Masa Depan

Kondisi ini tentu memprihtainlkan. Pendidikan yang seharusnya mejadi sarana pembebasan dan pencerdasan, justu terjebak dalam pusaran kompetisi yang distrikutif.

Perbaikan Sistem Pendidikan Nasional Jenjang Dasar-Universitas, DPR Sorot PR Ini

Perbaikan Sistem Pendidikan Nasional

Jakarta – Presiden Prabowo Subianto menekankan perbaiikan menyeluruh sistem pendidikan nasional. Perbaikan ini menurutnya akan berlaku dari jenjang dasar hingga pergruan tinggi.

Prabowo mengatakan pemberantaan ini guna menyiapkan generasi muda SDM unguul yang akan mengelola kekayaan nasional.

“Tidak hanya di 1,2,3, bidang, semua sekolah dasar harus kita perbaiki semua sekolah menengah harus kita perbaiki. Semua sekolah vokasi harus kita perbaiki. Semua pergruan tiinggi harus kita perbaiki.

Revisi UU Sisdiknas

Ketua Komisii X DPR Heltfah Sjahfudin mengatakan transformasi pendidikan jelang 2045 harus dilakukan lantaran keberhasilan pemanfaatn bonus demografi RI saat ini sangat dipengaruhi kualitas SDM. Dan aspek tranformasi regulasi, ia mengatakan pihaknya tengah menyusun revisi UU Sisdikernas.

Ia menjelaskan, dengan kordinasi, revisi UU Sisdikernas manyatukan UU tersebut dengan UU Guru Dosen dan UU Pendidikan Tinggi.

“Termasuk penyempurnaan tata kelola, penguatan kualitas guru dan dosen, pemerataan akses pendidikan, serta penajaman standar nasional pendidikan agar lebig relevan dengan kebutuhan zaman,” imbuhnya.

Kualitas Pendidik

Hetflah mengatakan, penguatan kualitas pendidik tidak hanya dalam peningkatan kesejahteraan, perlindungan, dan kompetensi, tetapi juga kemampuan mentrafeleser ilmu dan keterampilan. Keduanya perlu dilakukan dengan memanfaatkan teknologi.

Dalam hal ini, sambungnya, guru dan dosen harus memiliki literasi digital dari tidak digagap teknologi. Keterampilan ini menutupnya memungkinkan para pendidik jaddi penggerak transformasi pendidikan sekaligus melainkan kelulusan yang adftif.

“Mewujudkan SDM unggul harus disiapkan dengan kecakapan baru, seperti kemampuan menyeimbangkan berpiir kritis, kreativitas, kolaborasi, komunikasi, dan literasi, dan literasi digital, serta kemampuan membaca data, dan penguatan karakter kebangsaan.

Transformasi Sekolah sampai Kampus

Transformasi keseimbangan., baik perguruan tinggi lembaga pelatihan, dan satuan pendidikan menurut Hetflah juga harus addaptif pada perubahan. Termasuk di dalarnya yakni dengan mendorong akselerasi digital penguatan inovasi, dan pembentukan ekosistem pembelajaran sepanjang hayat.

“Lembaga pendidikaj perlu meningkatkan kemampuan dalam menghasilkan lulusan yang siap beradaptasi, beralih dan keterampilan lama yang kurang relevan menjad keterampilan baru era digital.”

Pendidikan Bukan Hanya Tugas Kampus

Hetflah juga menekankan perlunya transformasi ekosistem pembelajaran. Ia menilai SDM unggul hanya bisa lahir jika semua pihak berkepentingan bersama-sama membangun lingkunan belajar yang aman, sehat. dan bebas kekerasan atau perundungan.

“Pendidikan tidak bisa bersandar pada sekolah dan kampus semata, maka dunia usaha dan dunia industri, pemerintah daerah , bahkan keluarga, harus menajadi bagian integral proses pendidikan.

Kebijakan Berbasis Data

Ia menekankan, tata kelola pendidikan dan kebijakan pendidikan ke depan harus dibuat berbasis data. Dalam hal ini , Indonesia juga punya PR dalam sistem informasinya terintegrasi.

“Pengamblar keputusan sektor pendidikan harus berbasis data akurat, sistem informasi terintegrasi, serta evaluasi objektif. Tanpa itu transformasi terintegrasi serta evaluasi objektiv.

Pendidikan Bukan Mesin, Melainkan Organisme

Pendidikan Bukan Mesin

Jakarta – Kita sering melihat pendidikan sebagai mesin raksasa yang bergerak dengan presisi, terdiri dari kurikulum yang kaku, jadwal yang ketat, dan standar yang harus dicapai.

Baca Juga: Jangan Panik Begini Cara Siapkan Dana Pendidikan untuk Anak

Akan tetapi pandangan demikian terlalu sempit. Pendidikan sejatinya merupakan sebuah entitas organik, serupa dengan organisme hidup yang memiliki dinamika internal yang kompleks dan terus menerus beradaptasi.

Menggunakan kacamata sitologi kita bisa melihat bahwa unit paling fundamental dari pendidikam-kelas-bukanlah sekedar ruang statis, melainkan membuat sebuah ekosistem mikro yang berdenyut dengan kehidupan.

Dalam sitologi, sel menjadi unit dasar kehidupan yang memiliki struktur, fungsi, dan perilaku kompleks. Demikian pula, ruang kelas adalah unit dasar dari sistem pendidikan.

Di dalamnya, ada inti-guru dan kurikulum-yang memberikan antaran dan infromasi. Ada juga stoplasma-interaksi, diskusi, dan emosi-yang mengisi ruang dan memfasilitasi komunikasi.

Pendidikan Bagi Masa Depan

Sama seperti komunikasi antarsel yang memungkinkan sel-sel untuk bekerja sama, interaksi antara murid dan guru, serta di antara murid itu sendiri, membentuk jaringan yang

vital untuk proses belajar. Proses ini tidak bisa diukur hanya dengan angka atau standar, melainkan harus di pahami dalam konteks dinamikanya yang organik.

Krikulum nasional sering dianggap sebagai resep tunggal bagi keberhasilan pendidikan. Namun, jika kita melihatnya dari perspektif sitologi, kurikulum adalah atau betak guru yang membawa informasi dasar, bukan intruksi yang kaku.

Sama seperti gen yang diekspresikan secara unik di setiap sel, kurikulum ini juga diimplementasikan dengan cara yang berbeda di setiap kelas.

Seorang guru cerdas akan mengadaptasi ‘gen’ ini agar sesuai dengan lingkungan stoplamasi, di

kelasnya murid-murid gaya belajar mereka, dan tantangan memastikan bahwa kurikulum tidak hanya di ajarkan, tetapi juga benar-benar diserap dan dintemelensi.

Dinamika di ruang kelas-cara mengajar, bagaimana murid merespons, dan interaksi yang terjadi-adalah ‘sitologi’ dari pendidikan. Gejala-gejala seperti keterlibatan murid, pemahaman konsep, dan pengembangan keterampilan dapat diminati dan dipelajar.

Penting Bagi Masa Depan Bangsa Indonesia

Misalnya, ketika seorang murid menunjukan ketidakminatan pada suatu topik, ini bisa diibaratkan

sebagai ‘kelainan fungsi selulur’ yang megindekasikan  bahwa ada suatu yang tidak berjalan sebagaimana mestinya.

Pendekatan tersebut memunkinkan para pendidik untuk tidak hanya mengukur hasil akhir, tetapi jufga memahami proses yang mengarah pada hasil tersebut.

Sama seperti ahli sitologi yang memriksa sel-sel untuk mendeteksi anomali atau penyakit, para pendidik

dan pembuat kebijakan dapat mengamati dinamika di dalam kelas untuk memahami keberhasilan atau kegagalan kurikulum.

Sebaiknya lingkungan yang penuh tekanan atau ketakutan dapat menghambat proses belajar dan memicu “penyakit seluler”yang merusak.

Pada akhirnya, memahami pendidikan dan perspektif sitologi membuat kita menyadari bahwa fokus

tidak hanya pada struktur organisasional (seperti jadwal pelajaran), materi, atau standar) tetapi juga pada proses organik yang terjadi di tingkat mikro di setiap kelas.

Jangan Panik Begini Cara Siapkan Dana Pendidikan untuk Anak

Cara Siapkan Dana Pendidikan

Jakarta – Setiap orang tua tentunya ingin yang terbaik untuk anak, termasuk soal pendidikan. Namun, tingginya biaya pendidikan di Indonesia, mulai dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi, membuat banyak orang tua harus berpikir dua kali dalam merencanakannya.

Baca Juga: BWI dan Unhas Dorong Wakaf Jadi Solusi Ekonomi dan Pendidikan di Timur Indonesia

Beradasarkan slot depo 10k Badan Pusat Statistik (BPS) uang pangkat sekolah swasta rata-rata naik sebesar 10-15% setiap tahun, sementara inflasi pendidikan nasional mencapai 2,83%.

Adapun kenaikan ini tak lepas faktor-faktor seperti inflasi pendidikan, pembangunan fasilitas sekolah, hingga biaya operasional sehingga membuat biaya membuat biaya masuk sekolah terus meningkat dari tahun ke tahun.

Badan Pusat Statistik (BPS) dalam laporan Statistik Penunjang Pendidikan 2024, juga mencatat pada jenjang pendidikan tinggi, rata-rata total biaya pendidikan selama tahun ajaran 2023/2024 sekitar Rp 19,1 juta.

Sementara itu rata-rata total biaya pendidikan jenjang SMA/SMK sederajat mencapai Rp 10,19 juta. Kemudian, rata-rata total biaya pendidikan yang dikeluarkan peserta didik SD sederajat paling rendah di antara jenjang pendidikan lain yaitu sebesar 4, 56 juta.

Dengan tinggimya angka tersebut, persiapan dana pendidikan Wild Bounty harus dimulai sedini mungkin. Tanpa strategi finansial yang tepat, impian orang tua untuk menyekolahkan anak di sekolah atau universitas favorit bisa tentunya akan menjadi beban berat.

Tips Mempersiapkan Dana Pendidikan Anak

1. Cari Informasi Biaya Pendidikan

Langkah pertama yang perlu dilakukan adalah melakukan riset mengenai biaya pendidikan di sekolah atau universitas yang menjadi target. Orang tua perlu mengetahui berbagai hal mulai dari, biaya pendidikan pendaftaran dan uang pangkal, SPP atau biaya bulanan hingga inflasi pendidikan.

Selain itu pastikan juga untuk survei terkait biaya perlengkapan seperti seragam, buku, alat tulis, dan biaya kegiatan tambahan seperti, ekstrakurikuler dan studi tour.

Pastikan juga pemberdayaan biaya pendidikan di sekolah swasta favorit atau universitas negeri lewat jalur mandiri.

2. Menghitung Biaya Pendidikan

Setelah memiliki data, langkah berikutnya adalah menghitung berapa dana yang di slot depo pulsa butuhkan. Jika anak saat ini masih berusia 2 tahun, perhitungan bisa dimulai dari masa pre-school

atau Taman Kanak-kanak (TK), Jangan lupa untuk memperhitungkan inflasi pendidikan, yang rata-rata mencapai 10-15% per tahun.

3. Pilih Instrumen Tabungan yang Tepat

Setelah mengetahui perkiraan dana yang harus disiapkan , orang tua harus bisa mengumpulkannya dengan cara menabung. Pilih instrumen keuangan yang sesuai dengan jangka waktu dan profil risiko.

Salah satu cara cerdas untuk menyiapkan dana pendidikan anak adalah dengan Nabung Emas di pegadaian. Pasalnya, nilai emas cenderung stabil dan tahan inflasi sehingga cocok dijadikan investasi jangka panjang.

Saat ini biaya pendidikan naik, harga emas pun biasanya big bass crash ikut naik-sehingga membantu menjaga nilai tabungan kamu.

Tak hanya itu, emas juga mudah dicairkan saat dibutuhkan, termasuk saat membutuhkannya untuk membayar biaya pendidikan. Menariknya lagi, buka tabungan emas di Pegadaian digitla bisa mendapatkan promo Gajian emas.

Tak hanya itu, membuka Tabungan Emas di Pegadaian Digital juga terjamin keamannanya karena

dijamin 100% emas fisik dan sudah berizin diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

BWI dan Unhas Dorong Wakaf Jadi Solusi Ekonomi dan Pendidikan di Timur Indonesia

BWI dan Unhas Dorong Wakaf

Jakarta – Badan Wakaf Indonesia (BW) menggelar program Wakaf Goes to Campus dengan mengusung tema “Wakaf sebagai Akselerator Pembangunan Berkelanjutan di Kawasan Timur Indonesia.”

Baca Juga: Pendidikan yang Tertinggal dari Kehidupan

Kegiatan yang doselenggarakan pada Selasa (16/12/2025) di Aula Baharuddin Lopa Fakultas Hukum Unhas, mejadi momentum penting untuk menegaskan peran kampus sebagai ekosistem wakaf. Tujuannya untuk memperluas akses pendidikan sekaligus memperkuat fondasi ekonomi keunikan.

Rektor Unhas, Prof. Jamaluddin Jompa menyambut hangat inisiatif tersebu. Menurutnya. Wakaf goes to campus membawa gagasan inovatif yang sangat relevan, terlebih Unhas telah memiliki program studi (Prodi) Eknomi Islam)

Di menjelaskan bahwa wakaf adalah salah satu kekuatan besar yang dimiliki umat, dan dapat menjadi penggerak di berbagai diimensi, tidak hanya ekonomi tetapi juga sosial.

Dana dan Wakaf untuk Mahasiswa

Prof. Jamaluddin menjelaskan, fokus utama wakaf adalah memberikan dukungan berupa ekonomi

kepada calon mahasiswa Unhas yang kurang mampu, namun memiliki semangat dan potensi akademik yang besar.

Meski pemerintah telah menyediakan skema beasiswa seperti Kartiu Indonesia Pintar(KIP),

Prof. Jamaluddin menilai bahwa di kawasan Indonesia Timur, kebutuhan akan dukungan tambahan masih sangat tinggi

“Kami berharap inisiatif ini menjadi formula baru dalam memperkuat ekosistem wakaf, tidak

hanya di Unhas, tetapi juga Indonesia Timur dan secara nasional, sehingga seluruh pihak dapat saling menguatkan.

Dia menambahkan, bahwa Unhas akan segera merampungkan perumusan dan sistem gerakan wakaf

unhas waktu dekat agar program ini dapat segera diluncurkan dan dirasakan menfaatnya.

Solusi Atasi Mahalnya Biaya Pendidikan

Pada kesempatan yang sama, Wakil Ketua BWI, KH, Ahmad Zubaidi, menekankan besarnya potensi

kampus sebagai ekosistem wakaf. Dengan jumlah mahasiswa dan switas akademika yang besar, kampus diniali mampu mempercepat penghimpunan harta benda wakaf.

Potensi tersebut telah terbukti di sejumlah Perguruan Tinggi Badam Hukum (PTN-BH yang telah menitipkan

dana abadi mereka melalui BWI, di mana manfaatnya kembali dirasakan oleh kampus tersebut.

Dia berharap, pengelolaan wakaf yang baik dapat membantu mahasiswa yang kesulitan membayar spp dan kebutuhan pendidikan lainnya. Dengan begitu, akan tercipta

kesetaraan dalam pendidikan di mana mahasiswa dan keluaga kurang mampu tetap memiliki kesempatan

untuk berkuliah, bahkan tidak menutup kemungkinan dapat memperoleh pendidikan secara gratis.

“Kami terus melakukan roadshow ke berbagai kampus untuk megajak bersama-sama membesarkan

perwakilan melalui gerakan kampus berwakaf, Insya Allah, langkaj ini akan memberikan kontribusi besar bagi penguatan wakaf di Indonesia.”pungkasnya.

Pendidikan yang Tertinggal dari Kehidupan

Pendidikan yang Tertinggal dari Kehidupan

Jakarta – Bayangkan seorang remaja bernama Arka. Ia bukan tipe siswa yang mencolok di sekolah, nilai-nilainya biasa saja, ia cenderung pendiam di kelas, dan tak pernah diundang dalam upacara penghargaan akhir tahun. Tapi saat pulang ke rumah, dunianya berubah total.

Baca Juga: Artifical Intelligence dan Pendidikan Berkesadaran

Di layar laptopnya, Arka menjadi moderator komunitas sejarah digital beranggotakan ribuan orang dari slot depo 10k berbagai negara, ia aktif menyunting entri wikipedia, membedah

dokumen arsip dari perpustakaan daring, dan terlibat dalam diskusi lintas budaya di

Reddit dan Discord, ia tahu cara membaca peta politik pertengahan, dan bisa menjelaskan perbedaan meteologis antara sejarawan Arnales dan revision pasca kokonal.

Ironisnya guru sejarahnya dis sekolah bahkan belum pernah mendengar Reddit, dan masih memberikan tugas membuat rangkuman bab demi bab dan buku teks usang yang ditulis dua dekade lalu.

Pendidikan yang Tertinggal, Dunia yang Berlari

Sekolah masih berdiri kokoh sebagai simbol institusi pendidikan, namun mahjong wins 3 black scatter fondasi yang menopangnya mulai keropos karena tak lagi sesuai dengan zaman. Banyak sekolah masih beroperasi seperti pabrik di era industri, memiliki bel, jadwal tetap, raung-ruang tertutup, serta kurikulum yang kaku dan seragam.

Murid-murid duduk dan menerima informasi dari otoritas tunggal yang disebut guru, lalu diuji

dengan cara yang sama dan diukur dengan ala yang sama, meski latar belakang dan potensinya sangat berbeda.

Informasi tidak datang dari satu sumber, tapi muncul serentak dari puluhan kanal. Otoritas tidak lagi datang dari ssatu suara, tetapi dibentuk dari inetaraksi sosial yang dinamis dan forum, komunitas, dan platfrom digital.

Digital Bukan Perpanjangan Dunia Nyata, Ia Dunia Itu Sendiri

Kesalahan terbesar yang dilakukan sistem pendidikan saat ini adalah terus menerus memposisikan

dunia digital sebagai pelengkap, bukan sebagai habitat utama. Banyak guru, birokrat pendidikan, bahkan orang tua masih berfikir bahwa teknologi adalah alat bantu pembelajaran.

Dalam logika ini, digitalisasi berarti mengganti buku dengan PDF, mengganti papan tulis dengan

layar proyektor, atau mengganti ruang kelas dengan Zoom. Padahal, transformasi digital bukan soal medium, tetapi soal cara berfikir, cara memahami wakt, ruang, dan relasi antar manusia.

Kita hidup di era ketika anak bisa belajar bahasa asing dari discord , memahami politik global dan

TikTok, dan menghasilkan pendapatan dari kanal Youtube pribadi. Pendidikan tidak lagi linear, tetapi bersifat epsidosik dan kontekstual. Ia tidak lagi individualistis, tetapi kolaboratif dan partipisif.

Mendidik dalam Dunia yang Tak Lagi Nyata

Namun dunia digitak bukan utopia. Ia membawa tantangan serius, disinformasi, adkisi, fragmentasi slot88 resmi perhatian, serta tekanan sosial yang tak kasatmata namun sangat nyata dampaknya.

Justru karena itu, pendidikan menjadi semakin penting, bukan untuk menarik anak-anak keluar

dari dunia digital, tetapi untuk membekali mereka agar bisa hidup mereka agar bisa hidup secara utuh di dalamnya.

Sekolah, Antara Ketakutan dan Harapan

Yang menjadi persoalan utama hari bukanlah apakah anak-anak siap mengahadapi masa depan. Mereka dengan segala keunikan dan kemampuan adaptifnya justru sedang berlari ke depan. Pertanyaan sesungguhnya adalah apakah sekolah siap mengejar mereka?

Jika pendidikan terus mempertahankan model yang menutup diri dari perubahan, maka bukan hanya institusi sekolah yang akan kehilangan makna. Kita semua akan kehilangan generasi yang paling berpotensi membbentuk masa depan yang lebih baik.

Artifical Intelligence dan Pendidikan Berkesadaran

Artifical Intelligence dan Pendidikan

Jakarta – Menurut catatan arkeologis, kertas sudah ditemukan pada abad kedua sebelum masehi. Namun, Cai Lun, seorang pejabat pada Dinasti Han Timur di Lei-Yang, Tiongkok, mengumumkan penemuannya secara resmi pada tahun 105 masehi.

Baca Juga:Artifical Intelligence dan Pendidikan Berkesadaran

Temuan itu dijaga ketat sehingga baru sampai Jepang, Timur tengah dan Eropa beberapa abad kemudian. Pabrik kertas pertama di Eropa dibangun di Spanyol ;pada abad ke-8.

Lantas, pada akhir abad ke-15 Inggris mulai memproduksi kertas besar-besaran. Pada tahun 1890, Amerika mendirikan pabrik kelas pertama di Pennsylvania. Sebelum ditemukan kertas, karya-karya akademik, sastra, filsafat, dan lain-lain divatat pada ragam media.

Evolusi Pembelajaran

Kekurangan media untuk mencatat, tidak membuat para ilmuan kehilangan akal untuk mengabadikan dan menyebarkan karya-karyanya. Mereka memanfaatkan kekuatan penuturan. Itulah sebabnya, pertemuan langsung antara guru dan murid untuk mengajarkan ilmu merupakan satu-satunya.

Pada filsuf Yunani abad ke-6 SM seperti Thales, Anaximenes, Anaximander, dan lain-lain rela menempuh ribuan kilometer dan ratusan hari untuk menemui dan belajar kepada para bijak di Babilonia atau di Mesir, yang  kata itu sebagai pusat kebudayaan.

Sehingga diperlukan kekuatan mental, tekad, fisik dan kecukupan bekal untuk mendapatkan ilmu, itulah sebabnya para guru tidak memiliki banyak murid. Mereka hanya mengajarkan ilmu pada orang-orang pilihan.

Memasuki abad ke-8 hingga awal abad ke 21 Masehi, sudah mulai berkembang budaya mencatat. Sejalan dengan ditemukannya industri kertas, linta, alat tulis dan mesin cetak.

Kita mengenal Imam Al-Ghazali, Hujiatul Islam, hafal 300.000 hadis beserta sanad dan substansi matanya. Bahkan ada yang mengatakan hafal hingga 500.000 hadist. Kitab ilhya Ulimudin, karya magnum opusnya, terdiri atas 12 jilid pasda versi aslinya.

Yang pinter kala itu adalah mereka yang memiliki kekuatan membaca dan menulis. Kekuatan otak dimaksimalkan untuk menyerap ilmu lalu menuliskannya kembali. Di kalangan pesantren ada istilah aillmu fishthudur laisa fishutur. Ilmu itu yang dikepala bukan di buku. Imam Ali RA mengatakan, ikatlah ilmu dengan tulisan.

Esensi Pendidikan

Sebelum era AI, kita telah mengenal lebih dulu robot. Dikutip dari tulisan Zener Sukra Lie, Evulusi Robot, Robot modern pertama, Ultimate dibuat pada tahun 1954. Ultimate adalah robot pertama yang digunakan pada industri pendidikan.

Pada era 1960 hingga 1980 berkembang robot yang lebih canggih dengan tujuan untuk mengejarkan pekerjaan berulang agar lebih tepat, cepat, akurat dan dapat mengurangi kesalahan manusia (human eror)). Era ini dikenal dengan Era industri 3.0 atau automation, computer dan electronic

Pada era 1080 hingga 1990, teknologi komputer dan informatika semakin berkembang, Pada era ini, robot pun semakin pintar sehingga mulai dapat melakukan pekerjaan yang lebih kompleks, interaksi dengan lingkungan layaknya seorang manusia.

Sekarang robot ini digunakan pada industri kesehatan untuk mendiagnosa penyakit, meracik obat, industri jasa dan pelayanan, pendidikan, perakitan, dan lain-lain. Pada bidang pendidikan, robot dengan AI-nya dapat menggantikan peran dosen, terutama dalam proses pembelajaran, riset dan publikasi.

Apalagi saat ini dengan berkembangnya ragam aplikasi AI seperti Gemini, Deepseek, dan Metha AI. Produksi karya-karya akademik yang selama ini merupakan otoritas para ilmuan, telah diambil alih oleh aplikasi-aplikasi tersebut.