Pendidikan Bukan Mesin, Melainkan Organisme

Pendidikan Bukan Mesin

Jakarta – Kita sering melihat pendidikan sebagai mesin raksasa yang bergerak dengan presisi, terdiri dari kurikulum yang kaku, jadwal yang ketat, dan standar yang harus dicapai.

Baca Juga: Jangan Panik Begini Cara Siapkan Dana Pendidikan untuk Anak

Akan tetapi pandangan demikian terlalu sempit. Pendidikan sejatinya merupakan sebuah entitas organik, serupa dengan organisme hidup yang memiliki dinamika internal yang kompleks dan terus menerus beradaptasi.

Menggunakan kacamata sitologi kita bisa melihat bahwa unit paling fundamental dari pendidikam-kelas-bukanlah sekedar ruang statis, melainkan membuat sebuah ekosistem mikro yang berdenyut dengan kehidupan.

Dalam sitologi, sel menjadi unit dasar kehidupan yang memiliki struktur, fungsi, dan perilaku kompleks. Demikian pula, ruang kelas adalah unit dasar dari sistem pendidikan.

Di dalamnya, ada inti-guru dan kurikulum-yang memberikan antaran dan infromasi. Ada juga stoplasma-interaksi, diskusi, dan emosi-yang mengisi ruang dan memfasilitasi komunikasi.

Pendidikan Bagi Masa Depan

Sama seperti komunikasi antarsel yang memungkinkan sel-sel untuk bekerja sama, interaksi antara murid dan guru, serta di antara murid itu sendiri, membentuk jaringan yang

vital untuk proses belajar. Proses ini tidak bisa diukur hanya dengan angka atau standar, melainkan harus di pahami dalam konteks dinamikanya yang organik.

Krikulum nasional sering dianggap sebagai resep tunggal bagi keberhasilan pendidikan. Namun, jika kita melihatnya dari perspektif sitologi, kurikulum adalah atau betak guru yang membawa informasi dasar, bukan intruksi yang kaku.

Sama seperti gen yang diekspresikan secara unik di setiap sel, kurikulum ini juga diimplementasikan dengan cara yang berbeda di setiap kelas.

Seorang guru cerdas akan mengadaptasi ‘gen’ ini agar sesuai dengan lingkungan stoplamasi, di

kelasnya murid-murid gaya belajar mereka, dan tantangan memastikan bahwa kurikulum tidak hanya di ajarkan, tetapi juga benar-benar diserap dan dintemelensi.

Dinamika di ruang kelas-cara mengajar, bagaimana murid merespons, dan interaksi yang terjadi-adalah ‘sitologi’ dari pendidikan. Gejala-gejala seperti keterlibatan murid, pemahaman konsep, dan pengembangan keterampilan dapat diminati dan dipelajar.

Penting Bagi Masa Depan Bangsa Indonesia

Misalnya, ketika seorang murid menunjukan ketidakminatan pada suatu topik, ini bisa diibaratkan

sebagai ‘kelainan fungsi selulur’ yang megindekasikan  bahwa ada suatu yang tidak berjalan sebagaimana mestinya.

Pendekatan tersebut memunkinkan para pendidik untuk tidak hanya mengukur hasil akhir, tetapi jufga memahami proses yang mengarah pada hasil tersebut.

Sama seperti ahli sitologi yang memriksa sel-sel untuk mendeteksi anomali atau penyakit, para pendidik

dan pembuat kebijakan dapat mengamati dinamika di dalam kelas untuk memahami keberhasilan atau kegagalan kurikulum.

Sebaiknya lingkungan yang penuh tekanan atau ketakutan dapat menghambat proses belajar dan memicu “penyakit seluler”yang merusak.

Pada akhirnya, memahami pendidikan dan perspektif sitologi membuat kita menyadari bahwa fokus

tidak hanya pada struktur organisasional (seperti jadwal pelajaran), materi, atau standar) tetapi juga pada proses organik yang terjadi di tingkat mikro di setiap kelas.