Jakarta – Menurut catatan arkeologis, kertas sudah ditemukan pada abad kedua sebelum masehi. Namun, Cai Lun, seorang pejabat pada Dinasti Han Timur di Lei-Yang, Tiongkok, mengumumkan penemuannya secara resmi pada tahun 105 masehi.
Baca Juga:Artifical Intelligence dan Pendidikan Berkesadaran
Temuan itu dijaga ketat sehingga baru sampai Jepang, Timur tengah dan Eropa beberapa abad kemudian. Pabrik kertas pertama di Eropa dibangun di Spanyol ;pada abad ke-8.
Lantas, pada akhir abad ke-15 Inggris mulai memproduksi kertas besar-besaran. Pada tahun 1890, Amerika mendirikan pabrik kelas pertama di Pennsylvania. Sebelum ditemukan kertas, karya-karya akademik, sastra, filsafat, dan lain-lain divatat pada ragam media.
Evolusi Pembelajaran
Kekurangan media untuk mencatat, tidak membuat para ilmuan kehilangan akal untuk mengabadikan dan menyebarkan karya-karyanya. Mereka memanfaatkan kekuatan penuturan. Itulah sebabnya, pertemuan langsung antara guru dan murid untuk mengajarkan ilmu merupakan satu-satunya.
Pada filsuf Yunani abad ke-6 SM seperti Thales, Anaximenes, Anaximander, dan lain-lain rela menempuh ribuan kilometer dan ratusan hari untuk menemui dan belajar kepada para bijak di Babilonia atau di Mesir, yang kata itu sebagai pusat kebudayaan.
Sehingga diperlukan kekuatan mental, tekad, fisik dan kecukupan bekal untuk mendapatkan ilmu, itulah sebabnya para guru tidak memiliki banyak murid. Mereka hanya mengajarkan ilmu pada orang-orang pilihan.
Memasuki abad ke-8 hingga awal abad ke 21 Masehi, sudah mulai berkembang budaya mencatat. Sejalan dengan ditemukannya industri kertas, linta, alat tulis dan mesin cetak.
Kita mengenal Imam Al-Ghazali, Hujiatul Islam, hafal 300.000 hadis beserta sanad dan substansi matanya. Bahkan ada yang mengatakan hafal hingga 500.000 hadist. Kitab ilhya Ulimudin, karya magnum opusnya, terdiri atas 12 jilid pasda versi aslinya.
Yang pinter kala itu adalah mereka yang memiliki kekuatan membaca dan menulis. Kekuatan otak dimaksimalkan untuk menyerap ilmu lalu menuliskannya kembali. Di kalangan pesantren ada istilah aillmu fishthudur laisa fishutur. Ilmu itu yang dikepala bukan di buku. Imam Ali RA mengatakan, ikatlah ilmu dengan tulisan.
Esensi Pendidikan
Sebelum era AI, kita telah mengenal lebih dulu robot. Dikutip dari tulisan Zener Sukra Lie, Evulusi Robot, Robot modern pertama, Ultimate dibuat pada tahun 1954. Ultimate adalah robot pertama yang digunakan pada industri pendidikan.
Pada era 1960 hingga 1980 berkembang robot yang lebih canggih dengan tujuan untuk mengejarkan pekerjaan berulang agar lebih tepat, cepat, akurat dan dapat mengurangi kesalahan manusia (human eror)). Era ini dikenal dengan Era industri 3.0 atau automation, computer dan electronic
Pada era 1080 hingga 1990, teknologi komputer dan informatika semakin berkembang, Pada era ini, robot pun semakin pintar sehingga mulai dapat melakukan pekerjaan yang lebih kompleks, interaksi dengan lingkungan layaknya seorang manusia.
Sekarang robot ini digunakan pada industri kesehatan untuk mendiagnosa penyakit, meracik obat, industri jasa dan pelayanan, pendidikan, perakitan, dan lain-lain. Pada bidang pendidikan, robot dengan AI-nya dapat menggantikan peran dosen, terutama dalam proses pembelajaran, riset dan publikasi.
Apalagi saat ini dengan berkembangnya ragam aplikasi AI seperti Gemini, Deepseek, dan Metha AI. Produksi karya-karya akademik yang selama ini merupakan otoritas para ilmuan, telah diambil alih oleh aplikasi-aplikasi tersebut.